Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Siswa SD Akhiri Hidup Setelah Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Sekolah



Ngada, Nusa Tenggara Timur — Dunia pendidikan Indonesia kembali berduka. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBR (10) di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT, meninggal dunia akibat bunuh diri. Peristiwa tragis ini diduga dipicu kekecewaan karena tidak dapat memenuhi kebutuhan sekolah, khususnya buku tulis dan pulpen.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan aparat dan pemerintah daerah, berikut rangkaian peristiwa yang terjadi:

Malam sebelum kejadian


  • Korban datang ke rumah ibunya meminta uang untuk membeli buku dan alat tulis.

  • Sang ibu, seorang janda dengan lima anak, tidak mampu memenuhi permintaan tersebut karena kondisi ekonomi sangat terbatas.

Hari kejadian (29 Januari 2026)

  • Korban ditemukan meninggal gantung diri di pohon cengkeh.

  • Polisi menemukan surat tulisan tangan berisi pesan perpisahan kepada ibunya.

Hasil penyelidikan

  • Tidak ditemukan unsur kekerasan maupun perundungan (bullying).

  • Polisi menyimpulkan kematian murni bunuh diri.


Faktor Sosial dan Ekonomi

Kasus ini tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi beberapa kondisi:

1. Kemiskinan keluarga

Korban berasal dari keluarga kurang mampu, bahkan tinggal bersama neneknya di pondok bambu kecil di kebun.

2. Biaya pendidikan

Korban dan teman-temannya ditagih iuran sekolah sekitar Rp1,2 juta per tahun.

3. Tekanan psikologis anak

Menurut Menteri PPPA, anak diduga tidak memiliki tempat bercerita sehingga memendam masalah sendiri.


Respons Pemerintah dan Lembaga

Kasus ini mendapat perhatian nasional:

  • Presiden melalui kementerian terkait meminta penanganan cepat agar tidak terulang.

  • KPAI menyoroti faktor kesehatan mental dan ekonomi keluarga.

  • Pemerintah akan memperkuat program perlindungan anak.


Analisis: Alarm bagi Dunia Pendidikan

Peristiwa ini menunjukkan persoalan pendidikan bukan hanya soal sekolah, tetapi juga kesejahteraan sosial.

Beberapa pelajaran penting:

  1. Pendidikan gratis belum sepenuhnya bebas biaya

  2. Anak membutuhkan ruang bercerita dan pendampingan mental

  3. Kemiskinan masih menjadi penghalang akses pendidikan

  4. Sekolah perlu sistem deteksi dini kondisi psikologis siswa

Data KPAI bahkan mencatat puluhan kasus anak mengakhiri hidup dalam beberapa tahun terakhir, dengan faktor ekonomi dan pengasuhan menjadi pemicu utama.


Penutup

Tragedi YBR menjadi pengingat keras bahwa pendidikan bukan sekadar kurikulum dan nilai, tetapi tentang rasa aman, empati, dan kepedulian sosial.

Sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu hadir bersama — karena bagi seorang anak, masalah kecil bagi orang dewasa bisa terasa sangat besar dalam dunianya.

Posting Komentar untuk "Siswa SD Akhiri Hidup Setelah Tak Mampu Penuhi Kebutuhan Sekolah"